BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan
potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan
memfasilitasi kegiatan belajar mereka.
Aktivasi
belajar setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang
dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit.
Keaktivan siswa harus ada motivasi
terhadap siswa yang diberikan oleh seorang pendidik agar siswa tersebut aktif,
kreativ serta tidak ada kejenuhan dalam belajar untuk mencapai prestasi yang
diinginkan. Agar anak didik tidak
merasa kesulitan dalam belajar, maka seorang pendidik memberikan arahan serta
metode pembelajaran kepada anak didik yang baik dan tepat.
Lalu, bagaimana seorang pendidik memberikan arahan serta metode pembelajaran kepada anak didik yang baik dan
tepat?
Dari sinilah kami menyusun
makalah ini untuk memberi penjelasan tentang perlunya adanya Pengajaran
Perbaikan (Remedial Teaching).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses
Belajar Mengajar?
2. Apakah Perlu Adanya Pengajaran Perbaikan?
3. Apa Pengertian Pengajaran Perbaikan?
4. Bagaimana Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan
Masalahnya?
C.
Tujuan
1. Untuk Mengetahui Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam
Proses Belajar Mengajar
2. Untuk Mengetahui Perlunya Pengajaran Perbaikan
3. Untuk Mengetahui Pengertian Pengajaran Perbaikan
4.
Untuk Mengetahui Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam
kurikulum sekolah-sekolah dewasa ini metode dan sistem penyampaiannya
dipergunakan pendekatan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional
(PPSI).
Pendekatan
ini dianggap merupakan salah satu sistem yang efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan yang optimal dengan melalui satuan pelajaran. Satuan
pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar suatu bahan atau satuan
bahasan, dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih khusus(TIK). Tujuan
Instruksional Khusus ini hendaknya dirumuskan dengan jelas, dapat diukur, serta
dalam bentuk tingkah laku murid.
Dengan
rumusan dan tujuan yang jelas akan memudahkan guru dalam menyusun dan
mengembangkan bahan pengajaran, alat pengajaran serta rencana dan pelaksanaan
proses kegiatan belajar mengajar. Secara garis besar proses kegiatan belajar
mengajar dengan pendekatan PPSI itu sebagai berikut :
1.
Rencana
mengajar, meliputi :
-
Perumusan
TIK atau Tujuan Khusus Pengajaran (TKP).
-
Penyusunan
alat evaluasi.
-
Penentuan
materi pengajaran.
-
Penentuan
kegiatan belajar mengajar.
2.
Melaksanakan
pengajaran satuan pendidikan dengan kerangka :
-
Bidang
pengajaran.
-
Mata
pelajaran.
-
Satuan
bahasan.
-
Kelas/tingkat.
-
Catur
wulan/semester.
-
Waktu.[1]
3.
Evaluasi
yang merupaka umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar :
-
Bagi guru
bila TIK bisa tercapai dipergunakan untuk merevisi program.
-
Bagi siswa
bila TIK tidak tercapai diadakan remidial atau pengajaran perbaikan.
Dengan pendekatan PPSI yang langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
1.
Merumuskan
TIK.
2.
Menyusun
alat evaluasi.
3.
Menentukan :
-
Materi
pelajaran
-
Kegiatan
belajar mengajar (metode, alat, sumber)
4.
Melaksanakan
pengajaran dan evaluasi.
5.
Umpan balik
:
-
Revisi
program.
-
Remidial.
Dengan melihat kerangka dasar kegiatan-kegiatan
program belajar mengajar dengan pendekatan PPSI tersebut, maka pengajaran
perbaikan/ remedial teaching memegang peranan penting, khususnya dalam
rangka mencapai hasil belajar yang optimal (belajar tuntas).
B. Perlunya Pengajaran Perbaikan
Seperti pada
uraian sebelumnya, dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan proses belajar
mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses
pengajaran secara keseluruhan. Dengan demikian pengajaran perbaikan ini perlu
dapat dilihat dari segi :
a.
Siswa
Kenyataan
menunjukkan bahwa setiap siswa mempunyai hasil yang berbeda-beda dalam proses
belajar mengajar. Dalam pedagogik perbedaan individual ini harus
diterima/merupakan prinsip dalam stiap situasi pendidikan. Pendidik atau guru
selalu berhadapan dengan anak yang tidak ada bandingannya dengan anak lain.
(Dr. H. J. Langeveld menyebut prinsip individualisme).
Ada beberapa
perbedaan individual yang menjadi dasar perhatian antara lain :
a)
Perbedaan kecerdasan (intelegensi)
b)
Perbedaan hasil belajar (achievement)
c)
Perbedaan bakat (aptitude)
d)
Perbedaan Sikap (attitude)
e)
Perbedaan Kebiasaan (habbit)
f)
Perbedaan Penegtahuan (knowledge)
g)
Perbedaan Kepribadian (personality)
h)
Perbedaan Kebutuhan (need)
i)
Perbedaan cita-cita (ideal)
j)
Perbedaan Minat (interest)
k)
Perbedaan Fisik (physically)
l)
Perbedaan lingkungan (environment)
Atas dasar perbedaan individual siswa inilah, guru harus menggunakan
berbagai pendekatan dengan anggapan bahwa bila siswa mendapat kesempatan
belajar sesuai kemampuan pribadinya diharapkan dapat mencapai prestasi belajar
yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Dan untuk
membantu setiap pribadi siswa dalam mencapai hasil prestasi yang optimal, maka
sebaiknya digunakan pendekatan pengajaran perbaikan.
b.
Guru
Guru yang
mempunyai fungsi ganda sebagai instruktur, konselor, petugas psikologi, dan
sebagainya. Dalam fungsinya yang ganda ini guru bertanggung jawab atas
tercapainya tujuan pengajaran khususnya peningkatan prestasi belajar siswa.
Maka dalam rangka ini, pengajaran perbaikan merupakan peluang yang besar bagi
setiap siswa untuk dapat mencapai hasil prestasi belajar secara optimal.
c.
Proses
Pendidikan
Dalam proses
pendidikan, bimbingan dan penyuluhan merupakan pelengkap dari keseluruhan
proses pelaksanaan program belajar. Melalui bimbingan dan penyuluhan ini
diharapkan siswa dapat mencapai perkembangan pribadi yang integral. Untuk
melaksanakan pelayanan bimbingan yang sebaik-baiknya dalam proses
belajar-mengajar diperlukan pelayanan khusus yaitu pengajaran perbaikan.
C. Pengertian Pengajaran Perbaikan
a)
Pengertian
Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah
suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau
dengan kata lain pengajaran yang membuat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi perapis untuk
penyembuhan. Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan (gangguan) kepribadian
yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti
perbaikan belajar atau perbaikan pribadi. Remedial teaching berasal dari
kata remedy (Bahasa Inggris) yang artinya menyembuhkan. Istilah
pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk anak luar biasa
yang mengalami berbagai hambatan dalam belajar. Tapi dewasa ini pengertian itu
sudah mengalami berkembang. Sehingga anak yang normal pun memerlukan pelayanan
pengajaran remedial (Remedial Teaching).
b)
Perbandingan
Pengajaran Biasa dengan Pengajaran Perbaikan
1.
Kegiatan
pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut
berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan
belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.
2.
Tujuan
pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai
dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan
tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya
sama.
3.
Metode dalam
pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran
perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang
kesulitan).
4.
Pengajaran
biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team
(kerjasama).
5.
Alat
pengajaran perbaikan lebih bervariasi, yaitu dengan penggunaan tes diagnostik,
sosiometri, alat-alat laboratorium, dan lain-lain.
6.
Pengajaran
perbaikan lebih diferensial dengan pendekayan individual.
7.
Pengajaran
perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh
siswa.
c)
Tujuan
Pengajaran Perbaikan
Secara umum tujuan pengajaran perbaikan
tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan
belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara khusus pengajaran perbaikan
bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi
belajar yang diharapkan oleh phak sekolah melalui proses perbaikan.
Secara terperinci tujuan pengajaran perbaikan, yaitu :
·
Agar siswa dapat memahami dirinya,
khususnya prestasi belajarnya.
·
Dapat memperbaiki / mengubah cara
belajar siswa ke arah yang lebih baik.
·
Dapat memilih materi dan fasilitas
belajar secara tepat.
·
Dapat mengembangkan sikap dan
kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang jauh lebih baik.
·
Dapat melaksanakan tugas-tugas
belajar yang diberikan kepada siswa.
d)
Fungsi
Pengajaran Perbaikan
1.
Korektif
Artinya
dalam fungsi ini pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan.
Antara lain :
-
Perumusan
Tujuan
-
Penggunaan
metode
-
Cara-cara
belajar
-
Materi dan
alat pelajaran
-
Evaluasi
-
Segi-segi
pribadi, dan lain-lain
2.
Pemahaman
Artinya dari
pihak guru, siswa atau pihak lain dapat memahami siswa.
3.
Penyesuaian
Penyesuain
pengajaran perbaikan terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses
belajarnya. Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga
peluang untuk mencapai hasil terbaik lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan
sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan sehingga mendorong siswa untuk lebih
giat belajar.
4.
Pengayaan
Maksudnya
pengajaran perbaikan itu dapat memperkaya proses belajar mengajar melalui
metode pengajaran yang bervariasi.
5.
Akselerasi
Maksudnya
pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar, baik dari segi waktu
maupun materi.
6.
Terapsutik
Maksudnya
secara lagsung atau tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau
menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang.[2]
D.
Sifat Khusus
Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya
Kekuasaan
pengajaran perbaikan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang
diderita siswa. Tekanannya pada usaha perbaikan keseluruhan proses belajar
mengajar menyangkut masalah cara belajar, metode belajar, materi, alat, dan
lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar. Sehubungan
dengan masalah ini maka perlu sekiranya guru memahami prinsip-prinsip
permasalahan yang menyangkut :
a.
Cara belajar siswa
Pada dasarnya siswa belajar dengan cara-cara sebagai
berikut :
1.
Eksplorasi
Siswa
mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sesuatu melalui seluruh
indranya, kemudian dikembangkan melalui berbagai usaha, melakukan sendiri
dengan bermacam-macam alternatif.
2.
Coba-coba
Melalui trial
and error, siswa belajar memecahkan suatu permasalahan.
3.
Rasa tidak
senang
Dengan
merasa tidak senang, siswa akan belajar menghindari kesalahan.
4.
Rasa gembira
Sesuatu yang
menyenangkan cenderung untuk mengulang, dan sebaliknya sesuatu yang tidak enak
cenderung untuk dihindari.
5.
Imitasi
Belajar
melalui peniruan / pengamatan yang paling sering dilakukan.
6.
Partisipasi
Belajar
melalui peniruan, berati siswa berpartisipasi secara aktif (learn be doing),
itulah prinsip pedagogik dewasa ini.
7.
Komunikasi
Semakin
mudah komunikatif, makin menarik sesuatu hal untuk dipelajari.
b.
Kondisi
Belajar
Dalam setiap
situasi belajar terutama dalam merancang kegiatan belajar perlu diketahui
prinsip-prinsip yang mempengaruhi proses belajar itu baik kondisi umum maupun
kondisi khusus untuk mempelajari segi-segi tertentu dalam kegiatan belajar.
1.
Kondisi Umum
a)
Stimulasi
belajar
Pesan yang
diterima oleh siswa berupa stimulus yang berbentuk visual, auditif, verbal,
taktil, dsb. Dalam kegiatan belajar mengajar, bahan yang disajikan harus
benar-benar diinformasikan dan dapat diterima oleh siswa dengan baik dengan
cara prinsip pengulangan, dimana pinsip ini akan membantu siswa lebih dari
sekali kesempatan untuk menerima dan menstruktur pesan yang disampaikan oleh
guru.
b)
Perhatian
dan Motivasi
Siswa harus
memperhatikan stimulus belajar yang mengandung pesan dan harus mereka terima
untuk berlangsungnya kegiatan belajar. Oleh karena itu, sesuatu yang paling
penting dalam kegiatan belajar dan untuk mempertahankan perhatian diperlukan
adanya motivasi sehingga kegiatan belajar berlangsung dan berhasil baik.
c)
Respons yang
dipelajari
Oleh karena
belajar itu proses aktif, maka siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang
dipelajari. Pelibatan ini meliputi perhatian, proses internal, dan tindakan
yang nyata. Karena itu, agar hasil belajar dapat dinilai, maka tujuan harus
dirumuskan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati.
d)
Penguatan
dan umpan balik
Secara
teori, bila suatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan
untuk mengulanginya. Siswa harus menerima umpan balik secara langsung derajat
sukses pelaksanaan tugas.
e)
Pemakaian
dan pemindahan
Salah satu
prinsip pemakaian kembali informasi yang telah dipelajari adalah mind (jiwa)
harus membuat suatu alamat terhadap stimulus yang tersedia pada saat
dibutuhkan.
f)
Kemampuan
belajar
Manusia
telah mengembangkan kemampuan tertentu untuk memproses informasi dan
melaksanakan kegiatan belajar, misalnya bahan verbal dan persepsi visual yang
tidak ada batasnya dalam menghubungkan stimulus sekarang dan yang telah lewat.
2.
Kondisi
Khusus
a)
Kondisi
belajar informasi
Yang
termasuk belajar informasi adalah belajar lambing, kata-kata, istilah,
definisi, persamaan, pernyataan sifat, dll. Informasi yang dipelajari sering
disebut fakta pengetahuan atau isi yang biasa dipelajari dengan cara
menghafalkan karena akan menghemat waktu bila sering digunakan. Siswa perlu
diberikan penjelasan tentang apa yang harus dipelajari, hasil yang diharapkan,
manfaat materi pelajaran baginya.
b)
Kondisi belajar
konsep
Konsep atau
pengertian yaitu serangkaian perangsang dengan sifat-sifat yang sama.
Mempelajari konsep mempunyai tiga dimensi, yaitu :
·
Pengembangan
secara internal pola mental yang memberikannya perasaan dan kemampuan untuk
menggunakannya.
·
Verbalisasi,
deskripsi, atau definisi.
·
Pemberian
nama untuk konsep tersebut.
c)
Kondisi
belajar prinsip
Prinsip
yaitu pola antar-hubungan fungsional antara konsep-konsep. Belajar prinsip sama
dengan belajar konsep. Prinsip merupakan sarana penting untuk merumuskan
pemecahan masalah.
d)
Kondisi
belajar keterampilan
Keterampilan
dibedakan menjadi dua, yaitu intelektual dan psikomotor. Belajar keterampilan
memerlukan latihan dalam mengkoordinasikan gerak motorik dengan kegiatan mental
yang kompleks.
Kondisi
khusus belajar keterampilan , yaitu :
-
Tujuan dan
nilai dijelaskan.
-
Ditujukan
demonstrasi dari yang mampu.
-
Keterampilan
dasar diberikan.
-
Untuk
meningkatkan perbaikan perlu evaluasi kegiatan secara cepat.
e)
Kondisi
belajar sikap
Berbagai
bentuk penguasaan sikap yaitu pengenalan perhatian, ganjaran. Oleh karena itu,
jika siswa menjauhi sekolah mempunyai pengalaman negatif terhadap pelajaran dan
sebaliknya.
c.
Strategi
Pengajaran
Strategi pengajaran berhubungan
dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dalam memberikan
pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin
dicapai. Dengan kata lain, strategi pengajaran adalah kegiatan yang dipilih
guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan (fasilitas)
kepada siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Secara umum pemilihan
strategi pengajaran dipengaruhi oleh :
·
Penerimaan pengetahuan
·
Aplikasi pengetahuan
·
Tujuan yang bersifat perubahan sikap
(perasaan)
Pemilihan
strategi pengajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru semata-mata
dalam menggunakan metode, tetapi juga sifat dan karakteristik metode yang
dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Misalnya :
a) Metode ceramah
Ceramah atau
kuliah adalah metode pengajaran yang menggunakan penjelasan secara verbal.
Komunikasi bersifat searah, walaupun bisa dilengkapi dengan audio visual, tanya
jawab, diskusi singkat, dan sebagainya.
Adapun
kelebihan metode ini :
-
Bersifat
ekonomis dan efisien untuk menyampaikan fakta, konsep, dan prinsip.
-
Guru dapat
menyajikan pengetahuan dan pengalaman secara sistematis dan teratur.
-
Dapat
digunakan untuk kelas besar.
-
Tidak
memerlukan peralatan khusus.
Adapun
kekurangan metode ini :
-
Sulit
menampung perbedaan individual anak.
-
Menuntut
ketekunan siswa untuk mendengarkan, mencatat, dan mengingat.
-
Menuntut
pemusatan perhatian terus-menerus.
-
Membatasi
partisipasi aktif siswa.
b)
Metode
diskusi
Metode ini
dapat dipandang sebagai salah satu metode pengajaran yang paling efektif untuk
kelompok kecil, metode ini juga dapat menunjukkan efektivitas untuk berpikir
secara kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi antar pribadi, walaupun
memerlukan kesiapan dan pengalaman siswa untuk berdiskusi.
Adapun
kelebihan metode ini :
-
Siswa
terlibat secara langsung dalam proses belajar mengajar.
-
Memungkinkan
saling tukar menukar informasi dan pengalaman.
Adapun kekurangan metode ini :
-
Jika latar
belakang pengetahuan dan tingkat kematangan tidak sama, metode ini tidak
berfungsi dengan baik.
-
Menyita
waktu (berlarut-larut).
-
Menuntut
kesanggupan guru untuk mengontrol secara teliti keterlibatan siswanya.
c)
Metode
simulasi
Metode ini
biasanya digabungkan dengan bermain peranan, karena dengan memainkan peranan
tersebut siswa memperoleh suatu pengertian yang lebih baik tentang orang yang
dimainkannya, biasanya permainan ini diarahkan kepada pengembangan afektif.
Adapun
kelebihan metode ini :
-
Karena
berhubungan dengan situasi sesungguhnya maka siswa terangsang aktif
berpartisipasi.
-
Siswa
terlibat dalam kegiatan belajar dan bereksperimen.
-
Semua siswa
dari semua tingkat penampung dapat mengambil manfaat dari kegiatan simulasi.
Adapun kekurangan metode ini :
-
Bahan-bahan
komersial yang digunakan mahal.
-
Memerlukan
waktu banyak.
d.
Hubungan
Guru – Siswa
Hubungan guru-siswa dalam proses
belajar mengajar yang diharapkan adalah hubungan yang manusiawi. Maka yang
penting bagi guru adalah bagaimana membawa siswa memperoleh pengertian sesuai
dengan pribadinya.
Mengenai tujuan pendidikan yang penting
menurut aliran humanistik adalah menyadarkan kemampuan anak sendiri, membantu
mereka bagaimana memahami orang lain, menyiapkan masa depan mereka, melatih
cara mereka berpikir, dan mengambil keputusan sendiri.
Atas dasar itu, guru tidak lagi
berperan sebagai pusat kegiatan/perhatian, melainkan sebagai fasilitator yang
membantu siswa mengembangkan kemampuannya. Umtuk itu, guru perlu mengusahakan
iklim yang menunjang efektifitas belajar, seperti :
1)
Memberi kebebasan kepada siswa dalam
menyelesaikan tugasnya.
2)
Mengusahakan suasana belajar yang
hangat.
3)
Menghargai siswa.
4)
Memberikan tugas-tugas yang
menantang.
5)
Mengontrol disiplin siswa.
6)
Menilai keberhasilan, dan
sebagainya.
e.
Pengelolaan
Kelas
Pengelolaan
kelas menunjukkan kepada berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh
guru dengan tujuan untuk mempertahankan/menciptakan kondisi yang optimal bagi
terjadinya proses belajar mengajar.
Pengelolaan kelas meliputi pengaturan
tingkah laku antara ruang sehingga tercipta kemudahan-kemudahan dalam mengajar.
Masalah-masalah
yang berkenaan dengan pengelolaan ini meliputi:
Ø
Kondisi dan
situasi
Kondisi dan situasi bbelajar mengajar berupa
kondisi fisik dan kondisi emosianal:
1.
Kondisi fisik
lingkungan fisik tempat belajar yang menguntungkan
dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya identitas proses perbuatan
belajar dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan.
Kondisi fisik meliputi: besarnya ruangan, tata
letak, ventilasi.
2.
Kondisi
emosional
Suasana emosional dalam kelas besar pengaruhnya
rehadap proses belajar mengajar.
Kondisi ini bergantung kepada: kepemimpinan guru,
sikap guru, suara guru, dan pembinaan rapor.
Ø
Administrasi
Teknik
Yang termasuk administrasi teknik yaitu absensi,
tempat bimbingan, ruang baca,
catatan pribadi, tempat sampah.
Ø
Dimensi Pengelolaan
Kelas
Dalam rangka penyediaan kondisi
yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif guru mengadakan
tindakan yang berupa:
1.
Dimensi
Pencegahan
Dimensi ini merupakan tindakan guru dalam
mengatur siswa atau peralatan (format belajar mengajar) yang tepat agar
menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses belajar
mengajar.
Wujud dari
dimensi ini berupa kegiatan, contoh ataupun informasi.
Beberapa usaha
yang dapat dilakukan yaitu:
-
Meningkatkan
kesadaran diri baik dari siswa maupun guru.
-
Sikap yang
tulus dari pihak guru dalam memberi pelajaran siswa.
-
Membuat kontak
sosial yaitu tata tertib dengan sangsi dibicarakan dan disitujui bersama.
2.
Dimensi
Korektif
Dimensi ini dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu tindakan yang segera diambil pada saat terjadi gangguan dan
kedua yaitu tindakan terhadap tngkah laku yang menyimpang agar tidak
berlarut-larut (tindakan kuratif).
Beberapa usaha yang dapat dilakukan pada
dimensi tindakan:
-
Pesan-pesan
non-verbal (isyarat)
-
Melakukan
kontrol sosial
-
Hindarkan siswa
mendapat malu di hadapan kawan-kawannya.
Beberapa
langkah/tidakan yang dapat ditempuh dalam usaha penyembuhan mengatasi masalah,
yaitu:
-
Mengidentifikasi
kesulitan siswa untuk menerima dan mengikuti kontrak sosial.
-
Menetapkan
waktu pertemuan dengan siswa yang disetujui bersama.
-
Menjelaskan
manfaat yang mungkin diperoleh bagi siswa dan sekolah.
-
Tunjukkan
kepada siswa bahwa guru bukan orang yang sempurna.
-
Bila dalam
pertemuan siswa tidak responsif guru dapat menggajak diskusi pada saat lain.
-
Pertemuan
guru-siswa harus sampai pada pemecahan masalah yang diterima siswa dalam rangka
memperbaiki tingkah lakunya.
Ø Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa
Yunani, disciplus yang artinya murid pengikut guru. Dengan disiplin ini diharapkan
siswa bersedia untuk mengikuti peraturan
tertentu serta menjauhi larangan-larangan.
Usaha yang
dapat ditempuh dalam menanggulangi pelanggaran disiplin, yaitu sebagai berikut:
1.
Pengenalan
siswa, pada dasarnyasiswaa mempunyai daya atau tenaga untuk mengontrol dirinya.
2.
Memberikan
penyaluran sehat terhadap berbagai perasaan tertekan misalnya:
·
Menguji pikiran
yang mendasari suatu perasaa individu.
·
Disediakan
kotak masalah.
·
Penurunan
suasana emosional dengan cara diam memejamkan mata.
·
Role playing
merupakan cara yang cukup efektif untuk
memahami dirinya.
f. Bidang Studi
Pengetahuan tentang bidang
studi perlu diketahui bagi guru maupun konselor yaitu:
1)
Bahasa
Efektifitas
dalam bidang studi banyak tergantung dari penguasaan bahasa. faktor-faktor psikis
yang mempengaruhi perkembangan dan kemempuan bahasa yaitu lingkungan anak,
intelengensi, emosi dan alat bicara. Karena itu guru diharapkan dapat melihat
hambatan bahasa baik jasmani maupun psikis. Hambatan itu misalnya salah ucap,
salah ejaan, selain tata bahasa kesalahan membaca.
2)
Berhitung/matematika
Kegagalan dalam
penguasaan dan penggunaan angka dengan kombinasinya sering terjadi karena anak
belum/kurang memahami pengertian tentang angka.
Bila keadaan
ini tidak diketahui guru dan tidak segera mengadakan perbaikan akibatnya adalah
kegagalan.
Beberapa ahli
seperti Brownwell, Kuechner, dan Rein berdasarkan pengalamannya, menyatakan
bahwa remedial teachingberhitung diartikan penyusunan kembali pengalaman yang
diperoleh terlebih dahulu. Karena itu usaha guru yang harus direncanakan secara
matang dan dilakukan dengan ketekunan.
3)
Pengetahuan
alam/pengetahuan sosial
Pengetahuan
alam mencakup pengetahuan tentang semua kejadian, dan gejala alam yang
bergantung satu sama lainnya mencakup kehidupan, planet, iklim, dan seterusnya.
Pengetahuan sosial mencakup asal usul manusia, perkembangannya, saling pengaruh
mempengaruhi. Ilmu yang mempelajari ilmu sosial yaitu sosiologi, sejarah,
politik, ekonomi, psikologi pendidikan.
Pengetahuan
alam yang terutama adalah memberikan pengetahuan tentang isi alam semesta,
bagaimana aktifitas kerjanya dan mengapa demikian.
Sedang
pengetahuan sosial menggunakan penemuan-penemuan dalam pengetahuan alam tantang
apa yang berguna, apa yang baik bagi kesejahteraan umat manusia.
Beberapa aspek
psikologis yang perlu diketahui dalam mengajar IPA dan IPS yaitu:
-
Guru dan siswa
harus tahu dengan jelas apa yang diajarkan, dan apa yang dipelajari.
-
Murid
benar-benar belajar bila mempunyai arti baginya.
-
Dalam setiap
kelompok siswa pasti ada perbedaan mengenai yang sudah dipelajari sebelumnya,
dan apa yang mereka dapat pelari sekarang.
-
Pelajaran
berhasil karena aktifitas siswa
-
Metode yang
digunakan guru hendaknya metode kombinasi disiapkan sebaik-baiknya.
-
Sikap guru
merupakan faktor psikologis dalam pengajaran IPA dan IPS.
-
Sikap ilmiah
siswa harus diusahakan dengan cara ikut serta dalam eksperimen-eksperimen.
[1] Drs. H.
Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono. Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Rineka
Cipta, 2013), hlm. 149.
[2] Drs. H.
Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2013), hlm. 156.
Mukhtar,
Rusmini. Pengajaran
Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta : PT
Nimas Multima. 2007.
