Powered By Blogger

Selasa, 17 Desember 2013

Remedial Teaching


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka.
Aktivasi belajar setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit.
Keaktivan siswa harus ada motivasi terhadap siswa yang diberikan oleh seorang pendidik agar siswa tersebut aktif, kreativ serta tidak ada kejenuhan dalam belajar untuk mencapai prestasi yang diinginkan. Agar anak didik tidak merasa kesulitan dalam belajar, maka seorang pendidik memberikan arahan serta metode pembelajaran kepada anak didik yang baik dan tepat.
Lalu, bagaimana seorang pendidik memberikan arahan serta metode pembelajaran kepada anak didik yang baik dan tepat?
Dari sinilah kami menyusun makalah ini untuk memberi penjelasan tentang perlunya adanya Pengajaran Perbaikan (Remedial Teaching).

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar?
2.      Apakah Perlu Adanya Pengajaran Perbaikan?
3.      Apa Pengertian Pengajaran Perbaikan?
4.      Bagaimana Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya?

C.    Tujuan
1.      Untuk Mengetahui Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar
2.      Untuk Mengetahui Perlunya Pengajaran Perbaikan
3.      Untuk Mengetahui Pengertian Pengajaran Perbaikan
4.      Untuk Mengetahui Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hubungan Pengajaran Perbaikan dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam kurikulum sekolah-sekolah dewasa ini metode dan sistem penyampaiannya dipergunakan pendekatan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
Pendekatan ini dianggap merupakan salah satu sistem yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang optimal dengan melalui satuan pelajaran. Satuan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar suatu bahan atau satuan bahasan, dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih khusus(TIK). Tujuan Instruksional Khusus ini hendaknya dirumuskan dengan jelas, dapat diukur, serta dalam bentuk tingkah laku murid.
Dengan rumusan dan tujuan yang jelas akan memudahkan guru dalam menyusun dan mengembangkan bahan pengajaran, alat pengajaran serta rencana dan pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar. Secara garis besar proses kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan PPSI itu sebagai berikut :
1.    Rencana mengajar, meliputi :
-          Perumusan TIK atau Tujuan Khusus Pengajaran (TKP).
-          Penyusunan alat evaluasi.
-          Penentuan materi pengajaran.
-          Penentuan kegiatan belajar mengajar.
2.    Melaksanakan pengajaran satuan pendidikan dengan kerangka :
-          Bidang pengajaran.
-          Mata pelajaran.
-          Satuan bahasan.
-          Kelas/tingkat.
-          Catur wulan/semester.
-          Waktu.[1]
3.    Evaluasi yang merupaka umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar :
-          Bagi guru bila TIK bisa tercapai dipergunakan untuk merevisi program.
-          Bagi siswa bila TIK tidak tercapai diadakan remidial atau pengajaran perbaikan.
 Dengan pendekatan PPSI yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1.      Merumuskan TIK.
2.      Menyusun alat evaluasi.
3.      Menentukan :
-          Materi pelajaran
-          Kegiatan belajar mengajar (metode, alat, sumber)
4.      Melaksanakan pengajaran dan evaluasi.
5.      Umpan balik :
-          Revisi program.
-          Remidial.
Dengan melihat kerangka dasar kegiatan-kegiatan program belajar mengajar dengan pendekatan PPSI tersebut, maka pengajaran perbaikan/ remedial teaching memegang peranan penting, khususnya dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal (belajar tuntas).

B.    Perlunya Pengajaran Perbaikan
Seperti pada uraian sebelumnya, dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar maka pengajaran perbaikan ini merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Dengan demikian pengajaran perbaikan ini perlu dapat dilihat dari segi :

a.      Siswa
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap siswa mempunyai hasil yang berbeda-beda dalam proses belajar mengajar. Dalam pedagogik perbedaan individual ini harus diterima/merupakan prinsip dalam stiap situasi pendidikan. Pendidik atau guru selalu berhadapan dengan anak yang tidak ada bandingannya dengan anak lain. (Dr. H. J. Langeveld menyebut prinsip individualisme).
Ada beberapa perbedaan individual yang menjadi dasar perhatian antara lain :
a)      Perbedaan kecerdasan (intelegensi)
b)     Perbedaan hasil belajar (achievement)
c)      Perbedaan bakat (aptitude)
d)     Perbedaan Sikap (attitude)
e)      Perbedaan Kebiasaan (habbit)
f)      Perbedaan Penegtahuan (knowledge)
g)     Perbedaan Kepribadian (personality)
h)     Perbedaan Kebutuhan (need)
i)       Perbedaan cita-cita (ideal)
j)       Perbedaan Minat (interest)
k)     Perbedaan Fisik (physically)
l)       Perbedaan lingkungan (environment)

Atas dasar perbedaan individual siswa inilah, guru harus menggunakan berbagai pendekatan dengan anggapan bahwa bila siswa mendapat kesempatan belajar sesuai kemampuan pribadinya diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Dan untuk membantu setiap pribadi siswa dalam mencapai hasil prestasi yang optimal, maka sebaiknya digunakan pendekatan pengajaran perbaikan.

b.   Guru
Guru yang mempunyai fungsi ganda sebagai instruktur, konselor, petugas psikologi, dan sebagainya. Dalam fungsinya yang ganda ini guru bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pengajaran khususnya peningkatan prestasi belajar siswa. Maka dalam rangka ini, pengajaran perbaikan merupakan peluang yang besar bagi setiap siswa untuk dapat mencapai hasil prestasi belajar secara optimal.

c.    Proses Pendidikan
Dalam proses pendidikan, bimbingan dan penyuluhan merupakan pelengkap dari keseluruhan proses pelaksanaan program belajar. Melalui bimbingan dan penyuluhan ini diharapkan siswa dapat mencapai perkembangan pribadi yang integral. Untuk melaksanakan pelayanan bimbingan yang sebaik-baiknya dalam proses belajar-mengajar diperlukan pelayanan khusus yaitu pengajaran perbaikan.

C.    Pengertian Pengajaran Perbaikan
a)      Pengertian
Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan kata lain pengajaran yang membuat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi perapis untuk penyembuhan. Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan (gangguan) kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti perbaikan belajar atau perbaikan pribadi. Remedial teaching berasal dari kata remedy (Bahasa Inggris) yang artinya menyembuhkan. Istilah pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk anak luar biasa yang mengalami berbagai hambatan dalam belajar. Tapi dewasa ini pengertian itu sudah mengalami berkembang. Sehingga anak yang normal pun memerlukan pelayanan pengajaran remedial (Remedial Teaching).

b)     Perbandingan Pengajaran Biasa dengan Pengajaran Perbaikan
1.      Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.
2.      Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
3.      Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan).
4.      Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerjasama).
5.      Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi, yaitu dengan penggunaan tes diagnostik, sosiometri, alat-alat laboratorium, dan lain-lain.
6.      Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekayan individual.
7.      Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

c)    Tujuan Pengajaran Perbaikan
Secara umum tujuan pengajaran perbaikan tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara khusus pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan oleh phak sekolah melalui proses perbaikan.
Secara terperinci tujuan pengajaran perbaikan, yaitu :
·       Agar siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya.
·       Dapat memperbaiki / mengubah cara belajar siswa ke arah yang lebih baik.
·       Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
·       Dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang jauh lebih baik.
·       Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa.
d)   Fungsi Pengajaran Perbaikan
1.      Korektif
Artinya dalam fungsi ini pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan. Antara lain :
-  Perumusan Tujuan
-  Penggunaan metode
-  Cara-cara belajar
-  Materi dan alat pelajaran
-  Evaluasi
-  Segi-segi pribadi, dan lain-lain
2.      Pemahaman
Artinya dari pihak guru, siswa atau pihak lain dapat memahami siswa.
3.      Penyesuaian
Penyesuain pengajaran perbaikan terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya. Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil terbaik lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan sehingga mendorong siswa untuk lebih giat belajar.
4.      Pengayaan
Maksudnya pengajaran perbaikan itu dapat memperkaya proses belajar mengajar melalui metode pengajaran yang bervariasi.
5.      Akselerasi
Maksudnya pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar, baik dari segi waktu maupun materi.
6.      Terapsutik
Maksudnya secara lagsung atau tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang.[2]

D.    Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya
Kekuasaan pengajaran perbaikan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang diderita siswa. Tekanannya pada usaha perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar menyangkut masalah cara belajar, metode belajar, materi, alat, dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar. Sehubungan dengan masalah ini maka perlu sekiranya guru memahami prinsip-prinsip permasalahan yang menyangkut :

a.     Cara belajar siswa
Pada dasarnya siswa belajar dengan cara-cara sebagai berikut :
1.      Eksplorasi
Siswa mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sesuatu melalui seluruh indranya, kemudian dikembangkan melalui berbagai usaha, melakukan sendiri dengan bermacam-macam alternatif.
2.      Coba-coba
Melalui trial and error, siswa belajar memecahkan suatu permasalahan.
3.      Rasa tidak senang
Dengan merasa tidak senang, siswa akan belajar menghindari kesalahan.
4.      Rasa gembira
Sesuatu yang menyenangkan cenderung untuk mengulang, dan sebaliknya sesuatu yang tidak enak cenderung untuk dihindari.
5.      Imitasi
Belajar melalui peniruan / pengamatan yang paling sering dilakukan.
6.      Partisipasi
Belajar melalui peniruan, berati siswa berpartisipasi secara aktif (learn be doing), itulah prinsip pedagogik dewasa ini.
7.      Komunikasi
Semakin mudah komunikatif, makin menarik sesuatu hal untuk dipelajari.

b.      Kondisi Belajar
Dalam setiap situasi belajar terutama dalam merancang kegiatan belajar perlu diketahui prinsip-prinsip yang mempengaruhi proses belajar itu baik kondisi umum maupun kondisi khusus untuk mempelajari segi-segi tertentu dalam kegiatan belajar.
1.        Kondisi Umum
a)    Stimulasi belajar
Pesan yang diterima oleh siswa berupa stimulus yang berbentuk visual, auditif, verbal, taktil, dsb. Dalam kegiatan belajar mengajar, bahan yang disajikan harus benar-benar diinformasikan dan dapat diterima oleh siswa dengan baik dengan cara prinsip pengulangan, dimana pinsip ini akan membantu siswa lebih dari sekali kesempatan untuk menerima dan menstruktur pesan yang disampaikan oleh guru.
b)   Perhatian dan Motivasi
Siswa harus memperhatikan stimulus belajar yang mengandung pesan dan harus mereka terima untuk berlangsungnya kegiatan belajar. Oleh karena itu, sesuatu yang paling penting dalam kegiatan belajar dan untuk mempertahankan perhatian diperlukan adanya motivasi sehingga kegiatan belajar berlangsung dan berhasil baik.
c)    Respons yang dipelajari
Oleh karena belajar itu proses aktif, maka siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang dipelajari. Pelibatan ini meliputi perhatian, proses internal, dan tindakan yang nyata. Karena itu, agar hasil belajar dapat dinilai, maka tujuan harus dirumuskan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati.
d)   Penguatan dan umpan balik
Secara teori, bila suatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan untuk mengulanginya. Siswa harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas.
e)    Pemakaian dan pemindahan
Salah satu prinsip pemakaian kembali informasi yang telah dipelajari adalah mind (jiwa) harus membuat suatu alamat terhadap stimulus yang tersedia pada saat dibutuhkan.
f)    Kemampuan belajar
Manusia telah mengembangkan kemampuan tertentu untuk memproses informasi dan melaksanakan kegiatan belajar, misalnya bahan verbal dan persepsi visual yang tidak ada batasnya dalam menghubungkan stimulus sekarang dan yang telah lewat.

2.        Kondisi Khusus
a)    Kondisi belajar informasi
Yang termasuk belajar informasi adalah belajar lambing, kata-kata, istilah, definisi, persamaan, pernyataan sifat, dll. Informasi yang dipelajari sering disebut fakta pengetahuan atau isi yang biasa dipelajari dengan cara menghafalkan karena akan menghemat waktu bila sering digunakan. Siswa perlu diberikan penjelasan tentang apa yang harus dipelajari, hasil yang diharapkan, manfaat materi pelajaran baginya.
b)   Kondisi belajar konsep
Konsep atau pengertian yaitu serangkaian perangsang dengan sifat-sifat yang sama. Mempelajari konsep mempunyai tiga dimensi, yaitu :
·         Pengembangan secara internal pola mental yang memberikannya perasaan dan kemampuan untuk menggunakannya.
·         Verbalisasi, deskripsi, atau definisi.
·         Pemberian nama untuk konsep tersebut.
c)      Kondisi belajar prinsip
Prinsip yaitu pola antar-hubungan fungsional antara konsep-konsep. Belajar prinsip sama dengan belajar konsep. Prinsip merupakan sarana penting untuk merumuskan pemecahan masalah.
d)     Kondisi belajar keterampilan
Keterampilan dibedakan menjadi dua, yaitu intelektual dan psikomotor. Belajar keterampilan memerlukan latihan dalam mengkoordinasikan gerak motorik dengan kegiatan mental yang kompleks.
Kondisi khusus belajar keterampilan , yaitu :
-       Tujuan dan nilai dijelaskan.
-       Ditujukan demonstrasi dari yang mampu.
-       Keterampilan dasar diberikan.
-       Untuk meningkatkan perbaikan perlu evaluasi kegiatan secara cepat.
e)      Kondisi belajar sikap
Berbagai bentuk penguasaan sikap yaitu pengenalan perhatian, ganjaran. Oleh karena itu, jika siswa menjauhi sekolah mempunyai pengalaman negatif terhadap pelajaran dan sebaliknya.

c.    Strategi Pengajaran
Strategi pengajaran berhubungan dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Dengan kata lain, strategi pengajaran adalah kegiatan yang dipilih guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan (fasilitas) kepada siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Secara umum pemilihan strategi pengajaran dipengaruhi oleh :
·       Penerimaan pengetahuan
·       Aplikasi pengetahuan
·       Tujuan yang bersifat perubahan sikap (perasaan)
Pemilihan strategi pengajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru semata-mata dalam menggunakan metode, tetapi juga sifat dan karakteristik metode yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Misalnya :
a)   Metode ceramah
Ceramah atau kuliah adalah metode pengajaran yang menggunakan penjelasan secara verbal. Komunikasi bersifat searah, walaupun bisa dilengkapi dengan audio visual, tanya jawab, diskusi singkat, dan sebagainya.
Adapun kelebihan metode ini :
-     Bersifat ekonomis dan efisien untuk menyampaikan fakta, konsep, dan prinsip.
-     Guru dapat menyajikan pengetahuan dan pengalaman secara sistematis dan teratur.
-     Dapat digunakan untuk kelas besar.
-     Tidak memerlukan peralatan khusus.

Adapun kekurangan metode ini :
-     Sulit menampung perbedaan individual anak.
-     Menuntut ketekunan siswa untuk mendengarkan, mencatat, dan mengingat.
-     Menuntut pemusatan perhatian terus-menerus.
-     Membatasi partisipasi aktif siswa.

b)      Metode diskusi
Metode ini dapat dipandang sebagai salah satu metode pengajaran yang paling efektif untuk kelompok kecil, metode ini juga dapat menunjukkan efektivitas untuk berpikir secara kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi antar pribadi, walaupun memerlukan kesiapan dan pengalaman siswa untuk berdiskusi.
Adapun kelebihan metode ini :
-     Siswa terlibat secara langsung dalam proses belajar mengajar.
-     Memungkinkan saling tukar menukar informasi dan pengalaman.

Adapun kekurangan metode ini :
-     Jika latar belakang pengetahuan dan tingkat kematangan tidak sama, metode ini tidak berfungsi dengan baik.
-     Menyita waktu (berlarut-larut).
-     Menuntut kesanggupan guru untuk mengontrol secara teliti keterlibatan siswanya.

c)      Metode simulasi
Metode ini biasanya digabungkan dengan bermain peranan, karena dengan memainkan peranan tersebut siswa memperoleh suatu pengertian yang lebih baik tentang orang yang dimainkannya, biasanya permainan ini diarahkan kepada pengembangan afektif.
Adapun kelebihan metode ini :
-     Karena berhubungan dengan situasi sesungguhnya maka siswa terangsang aktif berpartisipasi.
-     Siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan bereksperimen.
-     Semua siswa dari semua tingkat penampung dapat mengambil manfaat dari kegiatan simulasi.

Adapun kekurangan metode ini :
-     Bahan-bahan komersial yang digunakan mahal.
-     Memerlukan waktu banyak.

d.      Hubungan Guru – Siswa
Hubungan guru-siswa dalam proses belajar mengajar yang diharapkan adalah hubungan yang manusiawi. Maka yang penting bagi guru adalah bagaimana membawa siswa memperoleh pengertian sesuai dengan pribadinya.
Mengenai tujuan pendidikan yang penting menurut aliran humanistik adalah menyadarkan kemampuan anak sendiri, membantu mereka bagaimana memahami orang lain, menyiapkan masa depan mereka, melatih cara mereka berpikir, dan mengambil keputusan sendiri.
Atas dasar itu, guru tidak lagi berperan sebagai pusat kegiatan/perhatian, melainkan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemampuannya. Umtuk itu, guru perlu mengusahakan iklim yang menunjang efektifitas belajar, seperti :
1)       Memberi kebebasan kepada siswa dalam menyelesaikan tugasnya.
2)       Mengusahakan suasana belajar yang hangat.
3)       Menghargai siswa.
4)       Memberikan tugas-tugas yang menantang.
5)       Mengontrol disiplin siswa.
6)       Menilai keberhasilan, dan sebagainya.
e.         Pengelolaan Kelas
        Pengelolaan kelas menunjukkan kepada berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk mempertahankan/menciptakan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.
     Pengelolaan kelas meliputi pengaturan tingkah laku antara ruang sehingga tercipta kemudahan-kemudahan dalam mengajar.
Masalah-masalah yang berkenaan dengan pengelolaan ini meliputi:
Ø  Kondisi dan situasi
Kondisi dan situasi bbelajar mengajar berupa kondisi fisik dan kondisi emosianal:
1.   Kondisi fisik
lingkungan fisik tempat belajar yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya identitas proses perbuatan belajar dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan.
Kondisi fisik meliputi: besarnya ruangan, tata letak, ventilasi.
2.   Kondisi emosional
Suasana emosional dalam kelas besar pengaruhnya rehadap proses belajar mengajar.
Kondisi ini bergantung kepada: kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru, dan pembinaan rapor.
Ø  Administrasi Teknik
Yang termasuk administrasi teknik yaitu absensi, tempat bimbingan,      ruang baca, catatan pribadi, tempat sampah.
Ø  Dimensi Pengelolaan Kelas
Dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif guru mengadakan tindakan yang berupa:
1.    Dimensi Pencegahan
     Dimensi ini merupakan tindakan guru dalam mengatur siswa atau peralatan (format belajar mengajar) yang tepat agar menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Wujud dari dimensi ini berupa kegiatan, contoh ataupun informasi.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan yaitu:
-       Meningkatkan kesadaran diri baik dari siswa maupun guru.
-       Sikap yang tulus dari pihak guru dalam memberi pelajaran siswa.
-       Membuat kontak sosial yaitu tata tertib dengan sangsi dibicarakan dan disitujui bersama.
2.    Dimensi Korektif
Dimensi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan yang segera diambil pada saat terjadi gangguan dan kedua yaitu tindakan terhadap tngkah laku yang menyimpang agar tidak berlarut-larut (tindakan kuratif).
     Beberapa usaha yang dapat dilakukan pada dimensi tindakan:
-       Pesan-pesan non-verbal (isyarat)
-       Melakukan kontrol sosial
-       Hindarkan siswa mendapat malu di hadapan kawan-kawannya.
     Beberapa langkah/tidakan yang dapat ditempuh dalam usaha penyembuhan mengatasi masalah, yaitu:
-       Mengidentifikasi kesulitan siswa untuk menerima dan mengikuti kontrak sosial.
-       Menetapkan waktu pertemuan dengan siswa yang disetujui bersama.
-       Menjelaskan manfaat yang mungkin diperoleh bagi siswa dan sekolah.
-       Tunjukkan kepada siswa bahwa guru bukan orang yang sempurna.
-       Bila dalam pertemuan siswa tidak responsif guru dapat menggajak diskusi pada saat lain.
-       Pertemuan guru-siswa harus sampai pada pemecahan masalah yang diterima siswa dalam rangka memperbaiki tingkah lakunya.
Ø Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa Yunani, disciplus yang artinya murid pengikut guru. Dengan disiplin ini diharapkan siswa bersedia untuk mengikuti peraturan  tertentu serta menjauhi larangan-larangan.
Usaha yang dapat ditempuh dalam menanggulangi pelanggaran disiplin, yaitu sebagai berikut:
1.     Pengenalan siswa, pada dasarnyasiswaa mempunyai daya atau tenaga      untuk mengontrol dirinya.
2.     Memberikan penyaluran sehat terhadap berbagai perasaan tertekan misalnya:
·         Menguji pikiran yang mendasari suatu perasaa individu.
·         Disediakan kotak masalah.
·         Penurunan suasana emosional dengan cara diam memejamkan mata.
·         Role playing merupakan cara yang cukup efektif  untuk memahami dirinya.

f.       Bidang Studi
                     Pengetahuan tentang bidang studi perlu diketahui bagi guru maupun konselor yaitu:
1)      Bahasa
Efektifitas dalam bidang studi banyak tergantung dari penguasaan bahasa. faktor-faktor psikis yang mempengaruhi perkembangan dan kemempuan bahasa yaitu lingkungan anak, intelengensi, emosi dan alat bicara. Karena itu guru diharapkan dapat melihat hambatan bahasa baik jasmani maupun psikis. Hambatan itu misalnya salah ucap, salah ejaan, selain tata bahasa kesalahan membaca.
2)      Berhitung/matematika
Kegagalan dalam penguasaan dan penggunaan angka dengan kombinasinya sering terjadi karena anak belum/kurang memahami pengertian tentang angka.
Bila keadaan ini tidak diketahui guru dan tidak segera mengadakan perbaikan akibatnya adalah kegagalan.
Beberapa ahli seperti Brownwell, Kuechner, dan Rein berdasarkan pengalamannya, menyatakan bahwa remedial teachingberhitung diartikan penyusunan kembali pengalaman yang diperoleh terlebih dahulu. Karena itu usaha guru yang harus direncanakan secara matang dan dilakukan dengan ketekunan.
3)      Pengetahuan alam/pengetahuan sosial
Pengetahuan alam mencakup pengetahuan tentang semua kejadian, dan gejala alam yang bergantung satu sama lainnya mencakup kehidupan, planet, iklim, dan seterusnya. Pengetahuan sosial mencakup asal usul manusia, perkembangannya, saling pengaruh mempengaruhi. Ilmu yang mempelajari ilmu sosial yaitu sosiologi, sejarah, politik, ekonomi, psikologi pendidikan.
Pengetahuan alam yang terutama adalah memberikan pengetahuan tentang isi alam semesta, bagaimana aktifitas kerjanya dan mengapa demikian.
Sedang pengetahuan sosial menggunakan penemuan-penemuan dalam pengetahuan alam tantang apa yang berguna, apa yang baik bagi kesejahteraan umat manusia.
Beberapa aspek psikologis yang perlu diketahui dalam mengajar IPA dan IPS yaitu:
-     Guru dan siswa harus tahu dengan jelas apa yang diajarkan, dan apa yang dipelajari.
-     Murid benar-benar belajar bila mempunyai arti baginya.
-     Dalam setiap kelompok siswa pasti ada perbedaan mengenai yang sudah dipelajari sebelumnya, dan apa yang mereka dapat pelari sekarang.
-     Pelajaran berhasil karena aktifitas siswa
-     Metode yang digunakan guru hendaknya metode kombinasi disiapkan sebaik-baiknya.
-     Sikap guru merupakan faktor psikologis dalam pengajaran IPA dan IPS.
-     Sikap ilmiah siswa harus diusahakan dengan cara ikut serta dalam eksperimen-eksperimen.



[1] Drs. H. Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono. Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2013), hlm. 149.
[2] Drs. H. Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2013), hlm. 156.

Mukhtar, Rusmini. Pengajaran Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta : PT Nimas Multima. 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar